Bob Marley dan Sepak Bola

0
251
Jamaican Reggae singer Bob Marley practices his football skills at a soccer field in Paris, France, on May 10, 1977. Marley and friends were due to play in a friendly match against French personalities, but due to bad weather the match was cancelled. (AP Photo)
Jamaican Reggae singer Bob Marley practices his football skills at a soccer field in Paris, France, on May 10, 1977. Marley and friends were due to play in a friendly match against French personalities, but due to bad weather the match was cancelled. (AP Photo)

PACEBRO.com – Peluit panjang akan melengking di langit Rusia, tanda dimulainya Piala Dunia 2018 pada 14 Juni 2018. Di hari yang sama 40 tahun lalu (1978), Bob Marley and The Wailers memainkan salah satu aksi panggungnya yang paling fenomenal di Pinecrest Country Club, AS.

Hari itu salah seorang fannya merekam suara Marley yang menembangkan 16 lagu. Konser tersebut disebut fenomenal, karena hasil rekaman itu menjadi salah satu suara panggung terbaik yang direkam secara langsung dari seorang Bob Marley.

Bob Marley, seorang penggemar sepak bola sekaligus musisi Jamaika dengan karya yang hidup lebih lama dari usianya.

Ia dan The Wailers, grup musik reggae-nya yang dibentuk bersama Peter Tosh dan Bunny Livingston pada 1963, mencintai sepak bola seperti mereka mencintai genre musik yang diusung.

“Saya suka musik sebelum saya menyukai sepak bola. Jika saya suka sepak bola terlebih dulu, mungkin itu agak berbahaya karena sepak bola sangat ganas. Jika seorang pria me-tackle Anda dengan keras, itu akan membawa pada peperangan,” kata Marley, seperti dikutip majalah sepakbola Perancis, Mondial, pada 1980.

Dalam artikel itu pun, pemilik nama asli Robert Nesta Marley ini tak memungkiri jika ia menjadi pemain sepak bola profesional seandainya nasib tak membawanya ke dunia musik.

Marley adalah tokoh transenden, alias luar biasa. Ia lahir di pertanian kakeknya pada 1945 di Nine Mile, Saint Ann, Jamaika. Selama menjadi musisi, ke manapun Marley pergi, ia selalu membawa dua hal: gitar dan bola sepak.

Baca juga:  Papuan Voices gelar Kompetisi Festival Film Papua II

Tiap kali Bob manggung, bola tak pernah jauh darinya. Ia, juga beberapa kali dengan The Wailers, akan bermain sepak bola kapan pun dia mau. Misalnya, di belakang panggung saat ia tengah check sound sebelum tampil.

Marley pun selalu mencari cara agar dapat bermain sepak bola. Misalnya pada para wartawan yang hendak mewawancarainya, ia selalu bilang: “Jika Anda ingin mengenal saya, Anda harus terlebih dulu bermain sepak bola melawan saya dan Wailers.”

Tak hanya itu, bus yang ia pakai dalam turnya pun mesti dilengkapi dengan televisi agar Bob tak ketinggalan siaran pertandingan sepak bola.

Sepak bola memang menemani kariernya yang terus menanjak selama bermusik.

Berbeda dengan grup musik asal Inggris, The Bealtes, yang khawatir mengakui klub sepak bola kesayangan mereka, Marley tak sulit untuk mengakui Santos sebagai klub idolanya.

Jika sudah demikian, bisa dipastikan ia memiliki kekaguman yang mendalam untuk Pele, legenda Santos.

Tak hanya itu, bukti kecintaan Marley pada sepak bola adalah bergabungnya Allan Cole sebagai manajer tour Bob Marley and The Wailers pada media 1970-an. Bukan tanpa maksud Marley merekrut Cole.

Pria yang juga salah satu pemain kenamaan Jamaika itu pernah bermain di Liga Sepak Bola AS untuk Atlanta Chiefs. Sangat mudah ditebak jika kehadiran Cole semakin membuat hari-hari Marley dan The Wailers lengket dengan sepak bola.

Baca juga:  Miliki Suara Emas, Gadis Asal Papua ini Jadi Viral

Banyak sekali peristiwa yang menghubungkan Marley dengan sepak bola. Mulai dari membuat pertandingan kecil-kecilan melawan musisi lain dan wartawan, hingga adu ketangkasan dengan pesepak bola lain seperti melawan Paulo C├ęzar Caju (Skuat Juara Dunia Brasil pada 1970).

Tak ada yang bersaksi lengkap mengenai kemampuan Marley di lapangan. Apakah olah bola Marley sama nikmatnya dengan reggae yang ia ciptakan, masih menjadi rahasia hingga sekarang.

Ada yang mengatakan bahwa ia bisa bermain secara profesional jika ia menjadikan sepak bola sebagai jalan kariernya, ada pula yang menghujat kemampuannya. Tapi, satu hal yang tak bisa dibanyah adalah tingginya gairah Marley dalam berolahraga.

Hingga akhirnya cedera kaki kanan akibat bermain sepak bola pula yang membawa Marley menuju ajalnya.

Kaki kanan Marley memang sering terkena cedera, misalnya kala ia meringis kesakitan sambil memegang kaki kanannya dalam sebuah pertandingan di Trenchtown, Inggris, pada 1974.

Ia pun kembali mengalami cedera saat terkena tackle keras Danny Baker pada pertandingan di Battersea Park, Inggris, pada medio 1977.

Hingga saat ini, nama Baker yang kala itu adalah seorang penyiar radio dan televisi ternama Inggris, kerap dikaitkan dengan kematian Marley. Ia diduga sengaja menginjak Kaki Marley hingga kuku kainya terluka.

Setelah peristiwa itu, Marley segera dilarikan ke rumah sakit dan mendapat vonis amputasi dari dokter. Namun sang Raja Reggae itu menolak untuk diamputasi, sehingga ia mengalami kanker dari luka tersebut dan meninggal pada 11 Mei 1981.

Baca juga:  Rio Grime, Berawal dari Teater Budaya Papua di Jakarta

Ada dugaan lain bahwa Marley mendapat sabotase selama ia dirawat akibat sakit tersebut. Dugaan itu diperkuat dengan percobaan pembunuhan terhadap Marley dan The Wailers pada 1976, karena sempat mendukung Eks Perdana Menteri Jamaika, Michael Manley yang progresif.

Apapun penyebab kematiannya di usia 36 tahun, sepak bola tetap menjadi cerita awal dan akhir dari jalan hidup seorang Bob Marley.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here