Pupa dan Narinare dari Lembah Baliem

0
66

PACEBRO.com – Cerita Rakyat, PUPA dan NARINARE adalah dua sahabat yang tinggal di hutan belantara. Mereka adalah dua sosok pemuda yang suka mengembara dan tinggalnya di hutan-hutan belantara. Di tempat itu, mereka membuka lahan kebun dan menanam berbagai tumbuh-tumbuhan. Jadi mata pencaharian mereka sehari-hari adalah berkebun dan berburu.

Pada suatu siang, ketika mereka pulang dari bekerja di kebun, mereka sepakat untuk pergi kehutan berburu babi hutan (wam helo). Tapi, pada waktu berangkat Narinare memutuskan untuk menjaga rumah. Maka hanya Pupa seorang diri, dengan membawa parang dan tombak sebagai senjata pergi berburu. Lembah dan bukit pun dia lalui sambil waspada terhadap binatang-binantang buruan. Akar-akar kayu tak menjadi halangan untuknya.

Menjelang sore, di tepi kali kecil berlumpur, dia melihat seekor babi hutan sedang berkubang. Pupa mengendap-endap dan mengatur langkah pelan-pelan memdekati babi yang asyik menikmati lumpur hitam itu. Satu, dua, tiga, jub…tombak bermata batu yang sangat tajam menembus tepat di jantung. Seketika itu juga babi langsung tewas. Sorak girang keberhasilan nampak dari wajah kekar pemuda itu.

Sesampainya dirumah, Narinare bersorank girang melihat babi besar dan penuh dengan lemak. Dia memasaka daging babi segar dengan lezat. Sementara mereka memasak, seorang kepala suku yang sedang dalam perjalanan singgah karena kehausan.

“Bisakah kamu ambilakn air untuk saya, saya sangat kehausan!!!” katanya.

Baca juga:  Legenda Burung Garuda di Gunung Emansiri

“Baik Pak. Tunggu sebentar ya, saya akan mengambilkan air untuk mu!!” jawab Pupa yang menemui kepala suku yang sudah tua itu.

Tanpa basa-basi Pupa berjalan dalam kegelapan dan mengambil tempat timba air (isoak) dan pergi mengambil air di tempat biasa.

Ketika ia sedang berjalan, tiba-tiba ia mendengar suara tetesan air keluar dari batu. Batu itu namanya Wakiruk. Setelah melihat air, ia mengambil dan cepat-cepat bawa ke rumah lalu memberikannya kepada kepala suku itu.

“Silakan minum pak!!” Pupa mempersilakan tamunya.

“Terimakasi Nak!” jawab kepala suku.

“Tentu bapak lapar, mari kita makan bersama-sama, karena tadi kami berburu dan mendapatkan seekor babi besar!!” ajak Pupa.

“Wah…,terimakasi banyak atas tawaran mu nak!” Katanya.

Maka mereka pun makan bersama-sama menikmati makanan masakan Narinare.

Sementara mereka makan, Pupa membisik sesuatu ke Narinare.

“He, tadi waktu mau ambil air untuk orang itu, saya mendapat mata air yang baru!” Katanya.

“Oya….dimana tempatnya”? Tanya Narinare.

“Tempatnya dimata air yang kecil itu. Di sampingnya ada muncul air yang baru!” kata Pupa.

Pagi harinya, Pupa pergi ke mata air yang kecil itu dan memberi tanda larangan dengan rumput dari hutan, alang-alang (Siruk).

Beberapa hari kemudian, Pupa pergi berburu lagi ke hutan belantara. Ia menyusuri lembah-lembah curam, bukit-bukit terjal, di hutan belantara. Telinga, mata, dan penciumannya terus mewaspadai binatang buruannya.

Baca juga:  KURABESI (GURABESI)

Di saat Pupa berburu, tiba-tiba ia menemukan sungai yang sangat lebar dengan air yang dingin, melimpah ruah (konon, kali itu dikenal dengan kali baliem). Ia sangat terkejut karena ada kali yang indah, dengan air yang melimpah. Maka ia segera kembali kerumah untuk memberi tahukan informasi itu kepada Narinare.

“Saya menemukan sebuah kali yang sangat besar!!” katannya dengan tergopoh-gopoh kepada Narinare.

“Oya, dimana kamu temukan kali itu?” tanya Narinare penasaran.

“Waktu saya berburu di hutan, dan saya terus berjalan sampai ke dalam, tiba-tiba saya bertemu sebuah kali yang sangat indah dengan air yang sangat melimpah!” Pupa menceritakan kepada saudarannya.

Narinare mendengar itu, ia agak mengerutkan dahinya.

“Sobat ko harus tahu, kali itu milik orang tua saya!” Katanya kemudian.

Pupa terkejut mendengar jawaban Narinare. Pupa kurang percaya dengan jawaban Narinare itu.

“Ah…kamu pasti bohong. Dimana tanah orang tuamu?” kata Pupa tidak percaya.

“Benar, keluarga saya memiliki tanah disekitar itu. Maka sungai itupun milik kami. Maka, kamu tidak boleh macam-macam dengan sungai itu!” kata Narinare agak marah.

“Apa…!? Macama-macam!? Kamu harus tahu ya, sungai itu saat ini sayalah yang menemukannya. Maka sungai itu milik keluarga saya!!” Kata Pupa sambil berdiri dan berkacak pinggang.

Perselisihan antara Pupa dan Narinare berkaitan dengan kali Baliem itu pun tak terhindarkan. Perkelahian tak terhelakan. Mereka akhirnya berpisah dan bermusuhan.

Baca juga:  Tradisi Potong Jari khas Papua

Masalah ini tersiar sampai ke keluarga masing-masing. Perang suku pun tak terhindarkan. Anak panah berterbangan ke arah lawan. Satu dua anak panah menancap di paha, dada, perut para penyerang maupun yang di serang. Banyak yang jadi korban. Tidak sedikit yang luka-luka. Tidak sedikit pula yang terbunuh. Perang pun semakin panas.

Kepala-kepala suku pun mulai berunding. Mereka memanggi semua orang yang terlibat untuk berbicara tentang kali Baliem. Melalui perundingan yang sangat alot, akhirnya di putuskan bahwa kali Baliem di serahkan kepada pihak yang berjuang yakni Pupa.

Kata sepakat didapat. Pesta perdamaian pun diadakan. Babi-babi gemuk menjadi tumbal perdamaian. Perempuan maupun laki-laki, tua maupun muda, mereka sibuk dengan acara perdamaian. Ada yang mencari kayu, ada yang mencari sayur, ada yang membersihkan ubi, dan ada pula yang memotong babi. Barapen (bakar batu) pun dibuat. Mereka duduk dalam kelompok dan menikmati daging babi barapen sebagai sarana perdamaina. Akhirnnya mereka pun bersatu kembali, hudup dengan aman dan damai.

* Masyarakat Lembah Baliem mempercayai bahwa Pupa adalah kaum laki-laki, sedangkan Narinare adalah kaum perempuan. Pupa adalah seorang penguasa dalam keluarga, sedangkan Narinare seorang wanita yang tidak punya kuasa. Wanita dihadapan laki-laki tidak punya kuasa apa-apa. Wanita berada ditangan kaum laki-laki. Kepercayaan ini masih dianut oleh orang-orang tua hingga sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here