Hubungan China dan Papua Pada Masa Lampau

0
55

Jauh sebelum Marco Polo mengelilingi dunia, Chau Ju-Kua atau Chou Ju-kua telah lebih dahulu melakukan perjalanan mengelilingi dunia 1170–1228. Catatan perjalanannya tercatat dalam buku Zhu Fan Zhi yang di terjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Friedrich Hirth and William W. Rockhill dan di terbitkan pada tahun 1911.

Dalam catatan perjalanan Chau Ju-Kua, ia hanya sampai di Seram dan mendata berbagai informasi bahan-bahan perdagangan seperti kayu masohi dan teripang. Di Seram ia memperoleh informasi tentang Papua (pada masa itu wilayah Papua di kawasan Raja Ampat hingga Fakfak sangat terkenal dengan bajak laut).

Chau Ju-Kua menamakan Tungki bagi Papua sebagai salah satu wilayah Janggi (perbudakan, tempat transaksi jual beli budak). Beberapa budak dari Papua dijual hingga ke Jawa bahkan ada yang di bawa hingga ke Inggris (lihat juga dalam catatan, Denys Lombard dan Stamford Raffles).

Pada fase berikutnya di tahun 1600-an, para pedagang Cina masuk wilayah ke Papua dan memulai perdagangan, selain komoditi ekonomi seperti kayu masohi dan teripang, dan perdagangan burung cenderawasih.

Berbeda dengan di wilayah Indonesia, di Papua komunitas pedangan Cina tinggal dan menyatu dengan masyarakat hingga terkenallah istilah Prancis (Peranakan Cina Serui), Cips (Cina Pantai Selatan).

Baca juga: Perancis (Peranakan Cina Serui)

Baca juga:  KURABESI (GURABESI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here