Awies dan Gete

0
27
Awies dan Gete
Awies dan Gete (IST/Ilustrasi)

pacebro.com /Cerita Rakyat – Alkisah, Pada suatu masa hiduplah dua orang kakak beradik,mereka hidup sebagai anak yatim piatu yang hidup di suatu kampung bernama Sewatolo, terletak di Tanjung Libla. Sekalipun sudah hidup papa tanpa orang tua, Awies dan adiknya Gete hidup saling mengasihi.

Hingga tibalah saat mereka beranjak dewasa dan berpisah. Awies menikah dan memilih bermukim di kampung istrinya, sementara Gete tetap tinggal di Tanjung Libla.

“Adikku, kita semua telah dewasa dan memiliki keluarga. Kau tetaplah tinggal disini, menjaga rumah ini bersama suamimu,” pesan Awies sebelum berpisah dengan adiknya.

Gete hanya diam, tidak menjawab pesan kakaknya. Ia hanya memandang sang kakak dengan air mata berlinang. Hatinya sangat sedih, sekian tahun hidup bersama Awies tetapi akhirnya harus berpisah.
Bertahun-tahun lamanya mereka tidak bersua, hingga suatu hari Awies merasa sangat rindu kepada adiknya. Ia berniat mengunjungi Gete di Tanjung Libla.

“ Saya ingin melihat Gete di Tanjung Libla, sudah lama sekali tidak mendengar kabarnya, “ pamit Awies kepada istrinya.

“Iya, suamiku. Pergilah dan bawalah bekal makanan ini. Sampaikan salamku untuk Gete. “ Istrinya memberikan bungkusan makanan untuk Awies, sebagai bekal selama perjalanan.

Dengan berbekal makanan yang diberikan istrinya, Awies berjalan menuju Tanjung Libla. Ia harus menyusuri hutan dan menempuh perjalanan selama berhari-hari, tetapi semua itu tak dihiraukan, demi bertemu adik yang sangat dirindukannya.

Akhirnya tibalah Awies di kampung halamannya. Ia melihat kampung Sewatolo tidak berubah, masih tetap sama seperti ketika ditinggalkannya. Langkahnya dipercepat menuju rumah Gete.

Tampak di pelataran depan rumah tempat tinggalnya dulu, dua anak tengah asyik bermain.

“ Itu pasti anak-anak Gete. Mereka sudah besar-besar. “

Awies mendekati kedua anak itu . Ia melihat salah satu dari anak itu sedang buang air besar di depan rumah. Melihat itu, Awies berteriak memanggil Gete.

“Geteme ….!!!!!!” Anak kecil buang air besar di depan rumah!!”

“Kenapa kau berteriak panggil, kau makan saja kotoran itu !!”

Baca juga:  Legenda Burung Garuda di Gunung Emansiri

Mengira yang berteriak suaminya,Gete yang tengah sibuk memasak di dapur pun membalas dengan teriakan keras. Gete sama sekali tidak menyangka itu teriakan Awies yang datang menjenguknya.

“Gete, keluar ………..!!!!” teriak Awies menggelegar menahan amarah.

Mendengar teriakan keras itu, Gete akhirnya keluar rumah dan terkejut melihat kakaknya berdiri dengan wajah marah. Gete hendak berlari memeluk kakak yang dirindukannya.

“ Jangan kau mendekat …!!! Kenapa kau suruh saya memakan kotoran anakmu?” Kasar sekali tutur bahasamu !! “ Awies marah sekali dengan Gete. Adiknya hanya bisa menunduk diam sambil menangis.

“Maafkan saya, kakak.” Saya tidak tahu kakak datang hari ini. Jika tahu yang berteriak kak Awies, saya pun tak akan berteriak seperti itu, “ ratap Gete dihadapan Awies.

Tetapi Awies benar-benar sangat marah. Ia menepiskan tangan Gete yang berusaha memeluknya.

“Gete, ini sambutanmu kepadaku. Jauh-jauh saya datang untuk menjengukmu, melihat keadaanmu. “

“Ampun, kaka.”

“Saya tidak bisa memaafkanmu !” Ini sudah sangat keterlaluan!”

Gete mencoba kembali merayu kakaknya dengan mengeluarkan semua barang yang dimilikinya untuk membayar adat, sebagai permintaan maaf atas kesalahannya kepada Awies.

“ Terimalah semua ini. Dan ampuni saya, “ kata Gete menghiba sambil meletakan semua barang itu di tangan kakaknya.

Dibakar rasa kecewa dan amarah yang sangat besar, Awies tetap kukuh tidak mau menerima pembayaran adat dari Gete. Rasa kasihnya kepada Gete telah hilang lenyap akibat perkataan adiknya yang tidak senonoh.

“ Kau tunggu…..! “ Nanti saya akan datang lagi,” ancam Awies penuh kemarahan sambil melangkah meninggalkan Gete.

Gete hanya diam sambil memandang punggung kakaknya yang semakin jauh. Perasaannya campur aduk, sedih dan takut melihat kemarahan Awies.

Sesuai janjinya, tiga hari kemudian Awies datang lagi ke rumah Gete. Tetapi ia tidak datang sendiri melainkan bersama orang-orang kampung istrinya yang siap berperang. Pasukan itu pun mengepung rumah Gete.

“Gete, keluar !!” teriak Awies.

Dengan menahan rasa takut, Gete keluar rumah menemui kakaknya.

Baca juga:  Tradisi Potong Jari khas Papua

“ Saya datang untuk makan kotoran anakmu, yang kau berikan tiga hari lalu, “ kata Awies dengan tajam.

Gete gemetar ketakutan melihat Awies masih marah bahkan membawa pasukan dengan pakaian perang.

“Kaka, ampun !” Hanya kata itu yang mampu di ucapkan Gete sambil bercucuran air mata.

Dia sangat sedih Awies tidak bisa memaafkan perbuatannya.
Gete berusaha mengeluarkan barang-barangnya kembali untuk membayar adat. Tetapi Awies tidak bergeming. Ia tetap kukuh tidak mau memaafkan Gete.

Awies sangat terluka, dan menganggap Gete telah menginjak harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Melihat banyak orang dengan pakaian perang, teriakan keras Awies serta ibunya yang ketakutan, anak-anak Gete pun menangis.

Melihat tangisan anak-anak Gete, Awies jatuh iba. Tak bisa dipungkiri dalam lubuk hati terdalam ia masih sangat menyayangi adiknya, Gete. Tetapi ia pun tidak memiliki pilihan untuk mengubah keadaan sebab pasukan perang yang dibawanya telah siap untuk membunuh Gete, yang dianggap telah menginjak harga diri Awies .

Bagai buah simalakama, Awies dihadapkan pada dua pilihan sulit. Ia hanya diam memandang Gete, beserta anak-anak yang terus menangis silih beganti dengan pasukan yang dibawanya.

“ Ah, anak-anak itu pasti masih membutuhkan Gete. Jika aku membunuh ibunya, siapa yang akan mengasuh mereka, “ kata hati Awies.

Awies teringat masa kecilnya bersama Gete yang hidup tanpa orang tua. Ia memandang Gete penuh kasih, kemarahannya telah lenyap. Tetapi ia memantapkan hati untuk membunuh Gete demi menjaga harga diri.

“ Awies, ayo, jangan diam. Kita bunuh dia !!” Adikmu ini tidak bisa dimaafkan!” teriak pasukan yang dibawanya tidak sabar melihat Awies tidak bergerak. Mendengar desakan penuh kemarahan, Awies pun terpaksa mengambil pilihan, membunuh Gete sekalipun hatinya merasa sangat sedih dan menyesal.

“ Gete, saya telah memaafkanmu. Tetapi, demi harga diri, kaka harus membunuhmu, “ kata Awies sambil memandang Gete dengan air mata berlinang.

“ Ampun, kaka, “ ratap Gete ketakutan ketika melihat Awies telah siap dengan parangnya.

Baca juga:  Pupa dan Narinare dari Lembah Baliem

“ Bagaimana anak-anakku nanti, siapa yang menjaganya. Suamiku sedang pergi, dan belum pulang,” isak Gete sambil mengelus kepala kedua anak yang sangat disayanginya.

Seolah tahu hendak ditinggalkan sang ibu, dua anak Gete menangis semakin keras. Masa itu, harga diri dan sumpah sangat dijunjung tinggi. Awies pun dengan rasa gamang terpaksa memenggal kepala Gete di hadapan kedua anaknya.

Awies menangis, meratapi jasad adiknya. Gete, adik yang sangat disayanginya telah meninggal dengan kepala terpenggal di Sewatolo, Tanjung Libla. Awies dan pasukannya pulang ke kampung istrinya, meninggalkan anak-anak Gete yang terus meratapi kematian ibunya.

Setelah kepergian Awies dan pasukannya, tibalah suami Gete dengan membawa hasil buruan. Tetapi, alangkah terkejutnya lelaki itu, ketika melihat kedua anaknya menangis dan melihat istrinya terbujur kaku. Ia mengguncang tubuh Gete sambil memeluk anaknya.

“Siapa yang membunuh ibumu ?” tanyanya kepada kedua anak kecil yang terus menangis sambil menggelengkan kepala.

Dengan kesedihan mendalam, suami Gete mengubur kepala dan tubuh yang terpenggal itu. Ia sangat menyesal dan meratapi kepergian istrinya. Sebagai seorang suami ia merasa tidak mampu membela dan melindungi istrinya. Tetapi nasi telah menjadi bubur, ia pun telah kehilangan Gete dan harus membesarkan kedua anaknya sendiri tanpa seorang ibu.


Mulutmu adalah harimaumu. Sangatlah penting kiranya kita selalu menjaga kata-kata, agar tidak menyakiti orang lain dan membuat sesal di kemudian hari. Kata-kata kasar mampu meluruhkan kasih sayang yang besar, sebab rasa sakit hati dan dendam. Cerita Awies dan Gete ini merupakan kisah seorang kaka beradik yang hidup saling mengasihi tetapi karena lontaran kata kasar, menimbulkan dendam dan berakhir menyedihkan.

Bukan hanya sakit hati, tetapi kata-kata yang kasar mempu membuat seseorang bisa membunuh orang yang dikasihinya. Untuk itulah, mari kita selalu menjaga tutur kata, agar kita bisa hidup saling berdampingan dan saling mengasihi tanpa ada dendam dan sakit hati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here