Legenda Nenek Sumda dari Demta

0
134

pacebro.com – Cerita Rakyat – ALKISAH – Di sebelah barat Demta Kota (Kota Kecamatan Demta sekarang), hiduplah seorang nenek yang tinggal bersama kedua anak perempuannya di dalam gua. Gua tersebut merupakan istana bagi mereka bertiga. Nenek itu bernama Sumda.

Nenek Sumda berstatus juga sebagai seorang ratu dan berkuasa atas beberapa daerah di sekitar Demta. Nenek Sumda juga dijuluki Nenek Raksasa karena ia memiliki kekuatan yang besar yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya yang berada di daerah Demta.

Tubuh Nenek Sumda bagian depan (dada dan perut) dan tubuhnya bagian belakang diselimuti atau dilapisi dengan batu. Lapisan batu pada tubuhnya itu merupakan perisai atau tameng baginya untuk melindunginya dari serangan musuh atau siapa saja yang berkelahi atau berperang dengannya. Di daerah Demta saat itu tidak ada seorangpun yang dapat menyaingi kekuatan dan ilmu tanding yang dimiliki Nenek Raksasa Sumda sehingga ia dihormati dan disegani sebagai ratu yang berkuasa.

Sebagai seorang ratu, Nenek Sumda memiliki banyak harta. Harta itu merupakan benda atau alat yang digunakan dan dibutuhkan manusia pada waktu itu untuk mempertahankan dan melanjutkan hidup dan kehidupannya. 

Harta Nenek Sumda itu terdiri dari tempayan dan sampe/gerabah jenis besar dan kecil yang digunakan untuk membuat papeda (makanan khas Papua-red), alat penikam penyu (tempuling) ukuran panjang dilengkapi dengan hiasan dan ukiran, sedangkan ukuran pendek tidak dilengkapi dengan ukiran dan hiasan, jala penangkap ikan dan udang, manik-manik dalam segala jenis dan warna, tomako batu (kampak batu), beberapa ukiran yang menggambarkan suasana laut dan darat, alat perang berupa busur dan panah, tulang Kasuari berbentuk sangkur ukuran pendek dan panjang, syatu (sejenis ubi) dan Nenek Sumda juga memelihara beberapa Burung Cenderawasih. 

Pekerjaan sehari-hari Nenek Sumda dan kedua anaknya adalah mengerjakan tempayan dan sampe yang dibuat dari campuran tanah liat, pasir dan abu dapur.

Di daerah-daerah sekitar Demta yang belum dikuasai oleh Nenek Sumda, yaitu Demta Pulau (Dariap). Di pulau itu terdapat beberapa kampung, yaitu Pisya, Usufar, Yaugap, Kosay. Werey dan Yausya. Nenek Sumda bercita-cita untuk merebut dan menguasai Pulau Dariap dengan jalan membunuh dan memusnahkan Pulau Dariap karena mereka tidak mau tunduk pada kekuasaan Nenek Sumda. Oleh karena itu, Nenek Sumda menyusun rencananya untuk berperang dan memusnahkan penduduk Pulau Demta (Dariap).

Mentari pagi mulai menguak kabut malam yang menyelimuti Pulau Dariap dan kehangatan sang surya menyirami bumi, menerpa tubuh semua insan yang semalam suntuk bergelut dengan udara dingin dan digoda mimpi-mimpi buruk. Pagi itu langit sepenuhnya berwarna kuning kebiru-biruan. Ketika itu Nenek Sumda dan sekutunya memasuki Kampung Marga Pisya. Penduduk kampung segera menyambut tamu baru itu dengan senyum persahabatan namun apa dikata, dalam sekejap mata tamu itu mengamuk di tengah kampung. 

Penduduk kampung yang datang menghampiri dengan maksud mengajak bicara, jadi sasaran sangkur tulang Kasuari. Sebagian jatuh berlumuran darah dan lainnya segera melarikan diri. Laki-laki yang muda dan kuat tidak bisa memberikan perlawanan, mereka lari tunggang-langgang mendaki Bukit Syantur untuk menyelamatkan diri. 

Kampung Marga Pisya berubah menjadi lautan api. Jeritan menyayat hati dan darah manusia yang tidak berdosa untuk pertama kalinya membasahi tanah Pulau Dariap. Mereka yang selamat lari ke bukit-bukit dan meratapi anggota keluarga yang telah hilang serta rumah dan harta kekayaan mereka yang dilahap oleh api. Kemudian Marga Pisya menyampaikan berita malapetaka yang menimpa kampungnya kepada marga di kampung-kampung lain. Penduduk di kampung lain segera bersikap waspada.

Hari berikutnya Nenek Sumda dan sekutunya memasuki perkampungan Marga Usufar di atas punggung Morop. Perempuan itu memimpin pasukannya di depan. Para lelaki muda yang tegap dan kuat Marga Usufar mempersiapkan diri untuk menghadapi Nenek Sumda dan sekutunya. 

Para pemuda satria itu menyerang Nenek Sumda dengan hujan anak panah namun sangat mengherankan karena semua anak panah itu terpental kembali ke pemanah-pemanah yang berasal dari Marga Usufar. 

Beberapa pemuda langsung tewas tertikam anak panahnya sendiri dan yang lainnya melarikan diri dengan busur-busur yang masih ada di tangan mereka. Kembali lagi Marga Kampung Usufar menjadi lautan api. Berita ini dengan cepat tersiar ke kampung-kampung lain bahwa tubuh Nenek Sumda dilapisi batu dan dengan kekuatan ilmunya dapat mengembalikan panah kepada pemanahnya.

Lahirnya Pahlawan Kembar

Berita penyerangan Nenek Sumda ke Kampung Marga Pisya dan Usufar membuat penduduk Kampung Werey dan Kosay segera bersiap-siap mengasingkan diri ke tempat lain. 

Di tengah hiruk-pikuknya manusia yang sedang dilanda perasaan takut kepada raksasa Sumda yang kejam dan serakah, di Perkampungan Marga Kosay terdapat seorang perempuan yang sedang hamil tua. Perempuan hamil itu dengan panik meminta pertolongan kepada tetangga dan kenalan agar ia juga diberi tempat untuk menumpang di perahu-perahu mereka yang mulai bertolak mengungsikan diri ke pulau-pulau di laut lepas. Namun, ia selalu gagal mendapatkan tumpangan karena perahu mereka telah sesak dengan para penumpang dan barang-barang bawaan mereka. 

Akhirnya tinggallah perempuan yang hamil itu sendirian di pantai Pulau Dariap. Air mata membasahi kedua pipinya. Ia meraung dan meratapi nasibnya karena mungkin sebentar atau besok, ia akan dibantai oleh si nenek tua yang kejam dan buas itu. 

Dengan gontai ia memasuku hutan, mencari tempat perlindungan. Ia menemukan sebuah gua dan bersembunyi di situ.

Pada siang hari, perempuan hamil itu mengembara di dalam hutan, masuk keluar kebun penduduk yang telah mengungsi. Ia mengambil hasil kebun berupa keladi, pisang dan sayur-sayuran kemudian dibawanya ke dalam gua tempat persembunyiannya. Ia tidak dapat masak dan membakar makanannya di siang hari karena jikaasap api mengepul ke angkasa akan dilihat oleh Nenek Sumda, berarti nyawanya akan terancam. 

Ketika malam tiba, barulah perempuan itu dapat membuat api untuk memasak dan memabakar makanannya yang akan dimakan pada malam hari, besok pagi dan siang.

Konon perempuan yang hamil itu mempunyai suami yang berasal dari alam gaib. Sering suaminya datang kepadanya saat-saat tertentu untuk membantu dan menghiburnya. Keperluan hidupnya berupa daging dan ikan ia peroleh dari suaminya. Di malam hari suaminya selalu mengunjunginya dan memberikan kepadanya apa yang diperlukan. Pada suatu hari, perempuan itu merasa sakit karena akan melahirkan. 

Akhirnya, ia melahirkan dua anak laki-laki kembar. Hatinya bahagia tetapi kegelisahanpun datang ketika kedua anaknya itu menangis. Ia khawatir tangis itu akan mendatangkan keributan di pulau dan terdengar oleh Nenek Sumda. Segera dibujuknya kedua anak itu dengan penuh kasih sayang.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahunpun berganti. Anak-anak itu mulai mengalami perubahan fisik Mulai dapat tertawa, tumbuh gigi, duduk, merangkak dan berdiri sambil berpegang pada tebing batu dan berjalan tertatih-tatih mengelilingi gua. Lama-kelamaan kedua anak itu sudah dapat berjalan dengan sempurna dan berlari-lari. 

Ketika usia kedua anak itu mencapai enam tahun, ibu mereka membuatkan busur dari akar Pohon Bakau dan panah dari batang Pohon Sagu. Ibu itu setiap hari melatih mereka memanah. Setelah mereka pandai menggunakan busur dan anak panah, mereka mulai belajar berburu binatang di hutan. Misalnya cicak, ular, tikus dan burung-burung. Semua hasil buruan diberikan kepada ibu mereka. Ibu mereka kemudian memperkenalkan binatang mana yang dapat dimakan dan binatang mana yang tidak dapat dimakan. Karena setiap hari pekerjaan anak-anak itu adalah memanah binatang maka keduanya dilatih memanah tepat sasaran.

Kedua anak lelaki itu kini telah tumbuh menjadi remaja. Oleh sebab itu, anak panah yang kecil dari tangkai Daun Sagu diganti yang besar dari batang Pohon Pinang.

Sekarang yang menjadi sasaran adalah binatang yang berukuran besar seperti Babi, Kanguru dan Kasuari. Jika mereka terlalu jauh masuk ke dalam hutan, ibu mereka selalu khawatir jangan sampai mereka bergembira dan bersorak-sorak atas hasil buruannya lalu suara mereka terdengar oleh Nenek Sumda.

Suatu hari ibu menceritakan kepada kedua anaknya tentang Nenek Raksasa Sumda yang telah membunuh penduduk di pulau itu.

“Saat kalian masih dalam kandungan dan ibu dalam keadaan hamil tua. Ketika semua orang hendak mengungsi dengan menggunakan perahu-perahu mereka, ibu memohon agar dapat diperbolehkan naik ke perahu mereka tapi karena perahu telah penuh dengan orang-orang dan barang-barang maka tinggallah ibu seorang diri di pulau ini. Penduduk terpaksa mengungsi karena Nenek Sumda sangat kejam! ia membunuh semua penduduk yang masih tinggal di pulau, ia ingin menguasai pulau ini.”

“Ibu, di manakah sekarang nenek yang kejam itu berada?” tanya kedua anaknya.

Baca juga:
Puteri Bulan Di Nimboran

“Nenek kejam itu tinggal di daratan sana dan ia selalu datang memeriksa pulau ini karena ia curiga, jangan-jangan masih ada penduduk yang masih tersisa. Oleh karena itu, ibu sangat khawatir jika kalian menyalakan api di siang hari sebab asapnya yang mengepul akan kelihatan oleh si nenek raksasa itu dan ia akan datang membunuh kita.”

Kedua anak itu mendengar cerita ibunya dengan penuh perhatian. Setelah mendengar cerita ibunya, kedua anak itu mulai (berhati-hati-red) jika akan pergi berburu. Kadang-kadang mereka pergi ke pantai secara sembunyi-sembunyi dan menikmati keindahan pantai yang lautnya luas serta mendengar deburan ombak putih membuih. 

Kedua anak itu menatap ke laut lepas dan berpikir, “Apakah di sana ada sebuah pulau tempat saudara-saudaraku mengungsi?” Namun yang tampak adalah hamparan laut lepas, seakan menyatu dengan cakrawala.

Di dalam tubuh kedua anak itu mengalir darah ayah mereka yang berasal dari alam lain, yang mengakibatkan keduanya memiliki otak yang cemerlang dan karakter yang unik. Ibu mereka telah menceritakan adanya nenek raksasa yang kejam dan serakah maka mereka berjalan di hutan dengan sangat hati-hati. Mereka juga mewarisi darah ibunya maka mereka juga memiliki perasaan takut kepada Raksasa Sumda yang telah diceritakan ibu mereka.

Pada suatu hari setelah makan malam, mereka duduk-duduk di serambi gua sambil mengunyah pinang. Kedua anak itu bertanya pada ibu mereka, 

“Ibu, di manakah ayah kami?” 

Mendengar pertanyaan itu, sang ibu terperanjat. Ia tidak mengira sebelumnya bahwa anak-anaknya akan menanyakan hal itu. Sang ibu merenung sejenak kemudian ia memahami bahwa pertanyaan itu harus dijawab dengan jujur karena kedua anak ini  semakin beranjak dewasa dan akan terus-menerus menanyakan hal itu. 

Namun, sang ibu menyadari pula akan keberadaan ayah mereka yang berasal dari alam gaib maka untuk menjawab pertanyaan ini, ia lebih dulu akan menanyakan kepada suaminya, apakah pantas kedua anaknya mengetahui akan keberadaan ayah mereka. Untuk itu, sang ibu berupaya mengalihkan pembicaraan pada hal-hal seputar tradisi turun-temurun serta mitos-mitos yang ada pada waktu itu hingga kedua anak itu lelap tertidur dan terbuai dalam alam peraduan mereka.

Seperti biasanya pada saat angin darat berembus, itu adalah pertanda bahwa suaminya akan datang.  Pada saat kedua anak mereka lelap dalam tidur, kemudian istrinya memberitahukan pertanyaan kedua anaknya itu kepada suaminya, 

“Tadi kedua anakmu bertanya tentang dirimu, apakah aku harus menjelaskan kepada mereka tentang perbedaan alam antara kita?” Kedua suami istri itu berbincang-bincang sehingga tak terasa hari mulai beranjak pagi, ini pertanda bahwa mereka harus segera berpisah. 

Matahari telah tinggi, sang ibu memanggil kedua anaknya dan berkata, 

“Nanti malam jangan tidur sebab ayah akan datang menemui kalian”.

Hari itu seperti biasanya mereka larut dalam kesibukkan masing-masing. Dalam hati, kedua anak itu sangat mengharapkan agar malam segera tiba. 

Saat yang dinanti-nantikan datang. Ketika mereka selesai menyantap santapan malam, mereka duduk-duduk di serambi gua sambil mendengar cerita dari sang ibu yang tidak lain mengenai kedatangan tamu yang luar biasa. Dan ketika angin darat mulai berhembus, ibu mereka berkata, 

“saatnya telah tiba, sebentar lagi ayah kalian akan datang. Kalian telah siap untuk menjemputnya?” 

Mendengar pertanyaan ibunya, kedua anak itu berkhayal membayangkan sosok ayah mereka. 

Tiba-tiba sang ayah telah berada di tengah-tengah mereka entah dari mana datangnya. Mereka terkejut namun ibu yang telah mengetahui hal itu berkata, 

“Inilah ayah kalian bedua”. 

Sang ayahpun segera memeluk dan membelai kedua anaknya dengan penuh kasih sayang dan dengan tata mantra ditiupnya napas kekuatan kepada kedua anaknya itu. Kemudian mereka duduk dan bercerita sejenak, kedua anak itu menyampaikan niat akan membalas dendam kepada Nenek Raksasa Sumda. Ayah mereka menyetujui niatnya dan ayah berjanji kepada mereka untuk membantu dalam usaha mereka membalas dendam kepada Raksasa Sumda.
Sejak mereka menyatakan niat untuk membalas dendam kepada Nenek Sumda, ayah menyuruh mereka untuk membuat anak panah sebanyak-banyaknya. Setelah itu, ayah memerintahkan kepada kedua anaknya untuk membangun para-para di sepanjang pantai Pulau Dariap. Mereka mendirikan dua belas para-para. 

Ayah, ibu dan kedua anak itu pergi untuk menguji coba anak panah yang mereka buat. Pertama, mereka memanah sebuah batang pohon kayu besi yang besar. 

Ayah dan ibu mereka berdiri dari jauh menyaksikan keamampuan senjata kedua putra mereka. Keduanya berdiri diantara pohon  tersebut dan mulai menghitung. Pada hitungan pertama tekan hulu anak panah pada tali busur, hitungan kedua tarik anak panah perlahan-lahan sampai kencang dan pada hitungan ketiga serentak anak panah dilepas. Ketika mata anak panah membentur batang kayu besi yang besar itu terjadi ledakan senjata api dan kayu besar itu terbelah dari atas sampai ke bawah dan pohon itupun tumbang. 

Namun, kedua anak itu merasa belum puas dengan percobaan pertama. Mereka bermaksud memasang tebing batu granit di pantai. Sekali lagi mereka pergi bersama untuk mencoba kedahsyatan ilmu memanah yang mereka miliki. 

Seperti biasa mereka berdiri berhadapan dengan dinding batu tersebut dan mulai dengan hitungan yang sama dan pada hitungan ketiga  serentak keduanya melepaskan anak panah. Mata anak panah membelah dinding batu dari atas sampai ke bawah, lalu terpental ke laut hingga membentuk pulau kecil. 

Sampai sekarang pecahan batu itu masih ada sebagai bukti sejarah. Setelah selesai dengan percobaan-percobaan itu, mereka pulang ke rumah dan merencanakan waktu yang tepat untuk membalas dendam.

Keesokan harinya mereka berdua mulai mengikat anak panah dalam dua belas ikatan. Satu ikatan berisikan lima puluh anak panah. Demikian segala sesuatunya mereka persiapkan dan menanti waktu yang tepat untuk mengundang nenek raksasa itu untuk berperang melawan mereka.

Perang Tanding

Waktu yang dinantikan tibalah sudah. Kedua pemuda itu mulai mengangkut kedua belas para-para yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Satu para-para, satu ikatan anak panah. 

Kemudian mereka sama-sama mendatangi para-para pertama tersebut langsung menaiki para-para ini dan mempersiapkan diri mendaki Wuruwgy. Lalu mereka menyalakan api di atas bukit itu sambil memanggil-manggil Sumda, 

“Sumda ooooooooo, uwga binim-binim uwga tey-tey!”. 

Kedua putra itu hanya membawa busur di tangan mereka dan bersiap-siap di atas para-para pertama.
Di seberang sana, di Uwmansiniway, Sumda dengan kedua anaknya sibuk dengan pekerjaan mereka membuat tempayan dan sampe. 

Gaduhnya alat-alat yang digunakan oleh Sumda yang menyerupai pemukul bola pingpong (bet) yang dipukul-pukulkan dari sebelah luar bejana yang dibentuk dan sebuah granit bulat pipih dari sebelah dalam menyebabkan telinganya tidak mendengar bunyi suara menantang dari seberang Bukit Murungi.
“Sumda ooooooooo, uwga binim-binim uega tey-tey!” 

Berulang-ulang kata ini diteriakkan oleh kedua anak itu. Akhirnya, kedua anak Sumda mendengar suara itu lalu berkata kepada ibu mereka, 

“Ibu, coba berhenti sebentar, sepertinya ada suara orang memanggil dari arah pulau itu.”

Sumda membentak kedua anaknya karena tidak suka dengan perkataan itu, 

“Mungkin suami kalian yang memanggil-manggil! Pulau Dariap sudah tidak ada orangnya, ibu sudah habiskan semua penghuni Pulau Dariap!”

Sumda segera melanjutkan pekerjaannya. Tidak lama kemudian, suara dari seberang Bukit Murawgi terdengar lagi, 

“Sumda ooooooooo, Uwga binim-binim uwga tey-tey!” 

Kedua anak itu menahan tangan ibunya yang selalu digerakkan memukul-mukul tempayan itu dan menyuruh ibunya untuk mendengarkan suara itu.  Sumdapun mengikuti ajakan kedua anaknya itu lalu mendengarkan suara yang datang dari arah seberang Pulau Dariap. 

“Sumda ooooooooo, uwga binim-binim uwga tey-tey!” 

Sumda terkejut! 

Bergegas ia menyimpan alat kerjanya, kemudian memanggil kedua putrinya, 

“Anak-anak, ibu rasa orang yang datang mengganggu kita di sini bukan orang sembarangan. Mungkin kemampuannya sama dengan ibu karena kalau orang biasa tidak mungkin datang mengganggu kita, ibu rasa ini pertanda bahwa ibu akan tewas di tangannya. Kalau hal itu terjadi, harta kekayaan kita harus kalian bagi kepada saudara-saudara kita yang bertebaran di pesisir pantai, dari Sungai Tami sampai dengan Mamberamo.”

Kedua anak Sumda terdiam mendengar perkataan ibunya. Kemudian Sumda melanjutkan kata-katanya, 

“Keterampilan membuat tempayan dan sampe serta alat-alat lainnya diberikan kepada saudara-saudara kita di Ambora, Kayu Batu dan Kampung Abar di Sentani. Jaring ikan berikan kepada saudara-saudara kita di Tobati dan Enggros, penikam penyu (tempuling) tangkai panjang yang berbunga satu dan berukiran diberikan kepada saudara-saudara kita di Tapra (Tablasufa, Depapre dan Tablanusu), Yakari (Demoi, Kantumilena, Wanya, Bukisi, Ambora dan Tarfia). Tempuling bertangkai pendek tanpa bunga dua dan tanpa ukiran berikan kepada saudara-saudara kita di Kampung Anus dan Podena (Bonggo). Untuk saudara-saudara kita di Muris Besar dan Muris Kecil berikan penikam ikan sero. Kepada saudara-saudara kita mulai dari Tarfia sampai dengan Sarmi, berikan penimba udang (ya) dan (komba).”

Baca juga:
Cerita Rakyat Waropen - Legenda Manusia jadi Hewan

Setelah Sumda selesai memberikan penjelasan pembagian harta kepada kedua anaknya, ia memberikan seutas tali kepada mereka dengan pesan, 

“Kalian berdua pegang tali ini dan perhatikan, kalau tali ini putus dengan sendirinya tanpa ada sentuhan benda tajam, itu pertanda bahwa ibu telah tewas dalam peperangan. Tapi kalau tali ini masih utuh, berarti ibu masih hidup.”

Kemudian Sumda menempatkan seekor Burung Cenderawasih di ambang pintu masuk gua dan berpesan pada kedua anaknya, 

“Perhatikan juga Burung Cenderawasih ini, kalau burung ini duduk seperti biasa, berarti ibu masih hidup tetapi jika burung ini duduk miring dan kepalanya terkulai ke bawah, berarti ibu sudah mati di dalam peperangan”.

Setelah Sumda memberikan wejangan-wejangan terakhir, ia segera mengambil sangkurnya yang terbuat dari Tulang Kasuari dan berangkat ke seberang menuju Pulau Dariap.

Ketika Sumda berenang menyeberang Pulau Dariap, ibu dari kedua anak itu sudah dapat melihatnya dari atas. Sang ibu segera berlari menemui kedua anaknya di pantai dan memberikan aba-aba untuk siap. 

Lagu peperangan dikumandangkan dan kaki digerakkan mengikuti lagu. Setelah Sumda muncul, mereka berdua menekan hulu anak panah pada tali busur dan menunggu. 

Sebelum Sumda datang merapat ke para-para pertama, ia berkata, 

“Saya kira manusia di pulau ini sudah habis, kalian sembunyi di mana? Hari ini kalian mengudangku datang untuk menjadi santapan saya yang lezat, saya sudah lama haus darah dan lapar daging manusia! Sudah beberapa kali saya periksa pulau ini tetapi tidak menemui seorangpun, saya kira pulau ini sudah tidak berpenghuni lagi tetapi ternyata dugaan saya salah, kini masih ada tiga orang lagi yang akan menjadi santapan saya yang lezat dalam beberapa hari ini!”

Kedua anak itupun menjawab dengan spontan, 

“Merapatlah kemari, kami juga sudah lama mendengar namamu, tapi belum pernah melihat tampangmu. Ayo merapatlah kemari dan kita buat perhitungan!”

Ibu dari dua anak itu memberi aba- aba untuk bersiap, tekan hulu anak panah pada tali busur dan tarik sampai kencang…lepas!” serentak mereka memanah didadanya tetapi sungguh aneh, anak panah mereka bagai menyentuh batu karang mata anak panah mereka patah berkeping dan mental kembali. Melihat peristiwa itu ibu berteriak sambil memberi petunjuk, jangan panah didadanya! arahkan panah kalian ke ketiaknya!”

Sumda tertawa terbahak -bahak sambil mengejek, 

“ jangan sampai kalian berdua menggelitik ketiak saya, saya tidak suka bermain -main, saya sudah lapar daging dan haus darah, jangan hanya bertikah lebih baik serahkan saja diri kalian supaya kita jangan berhela -hela!” 

Sambil berkata demikian, ia mencabut para -para pertama bagaikan mencabut para -para mainan dan mencampakkannya ke laut. 

Kedua anak lelaki itu segera melarikan diri dan kemudian menaiki para -para ke dua. kini mereka telah siap diatas para -para kedua sambil menunggu reaksi Sumda. 

ketika Sumda mengangkat tangan untuk mencabut tiang penyangga di para -para kedua anak panah bersarang diketiaknya. 

Sumba semakin garang dan menyerang membabi buta. para-para kedua pun dicabutnya dan dicampakkan kelaut. kedua anak tersebut kemudian berlari lagi ke para -para ketiga, dan langsung bersiap diri. 

Kedua anak muda itu menyerang dengan senjata dari alam nyata sedangkan ayah mereka menyerang dengan senjata dari alam gaib, dan ibu mereka menyiramnya dengan air mantra. demikian seterusnya perkelahian mereka berlangsung sampai beberapa jam. dan setiap para -para kedua anak itu menghadiahkan dua buah anak panah yang menancap diketiak sumda. 

Demikian seterusnya sampai dengan para -para yang kesebelas, jumlah anak panah yang telah tertancap ditubuhnya adalah dua puluh anak panah, namun semua anak panah itu belum sanggup memusnahkan Sumda. 

Sebab Sumda memiliki kekuatan dari dua alam maka dia dapat bertahan meskipun tubuhnya telah terkoyak seperti kertas. Kini kedua anak itu telah berada diatas para -para yang kedua belas yang merupakan para -para terakhir. 

Kedua anak itu langsung menyerang dengan mengarahkan anak panah keketiak Sumda yang mengakibatkan Sumda jatuh terhuyung -huyung. dengan sisa kemampuannya Sumda berusaha bangkit berdiri sambil berkata 

“Tahanlah anak panahmu dan dengarkanlah kata -kata ku ini. Kalian bertiga bersembunyi dimana? seluruh pulau ini telah aku jelajahi dan semua penghuninya telah aku bunuh, lalu sisanya melarikan diri dan mengungsi dari sini, hari ini kalian bertiga membawa saya kepada alam kematian, walaupun saya menguasai dua alam tetapi kalian juga sama dengan saya. ketika saya hendak menjelma kealam lain ayah kalian juga telah menyerang saya, sebaliknya dia lama nyata kalian juga telah menyerang saya dengan menggunakan ilmu perang yang lebih tinggi, yang membuat saya tidak berdaya, maka sebelum kalian menghabisi saya dengarkanlah dulu pesan saya ini,”

“ Bila saya mati belahlah dada saya dan keluarkanlah jantung saya, buatkanlah perahu dari pelepah pohon sagu kemudian muatlah jantung saya itu kedalam perahu, lalu turunkan ke laut biarkan perahu itu berlayar entah kemana perginya”

Setelah Sumda selesai berbicara kedua anak itu menarik menarik hulu anak panah yang terakhir dan mengarahkan ke kedua ketiak Sumda yang langsung merobek jantungnya.

Sumda terhempas jatuh ketanah dan kepalanya terjerumus keatas bukit Yapo. Sumda menghembuskan nafasnya yang terakhir dan menutup matanya untuk selama -lamanya (sampai sekarang tubuhnya yang merupai batu masih tergeletak diatas bukit Yapo).

kedua anak Sumda yang ditinggalkan didalam goa batu di Uwmansiniway terkejut karena melihat tali yang ada di tangan mereka terputus tiba -tiba tanpa ada sentuhan benda tajam. mereka berlari menjenguk burung Cenderawasih yang ada dimabang pintu goa, kepalanya terkulai ke bawah. teringatlah mereka akan pesan ibunya tentang hal ini yang bebarti ibu tewas dalam pertempuran. merak meraung dan meratapi nasib ibu mereka. sesuai dengan pesan ibunya maka kedua anak itu segera membagi harta kekayan kepada saudara-saudaranya yang tersebar dipesisir pantai dari Tami sampai Sungai Mamberamo.

Sampai saat ini tak ada yang tahu kemana kedua naka gadis itu mengugsi dan kawin. gua batu tempat mereka berdiam masih ada sampai sekarang, namun pintunya telah ditutup sehingga  tidak dapat melihat atau masuk kedalamnya.

Setelah Sumda dibunuh, berita kematiannya tersebar diseluruh Pulau Cenderawasi (Papua), sehingga marga -marga di pulau Dariap yang mengungsi kembali ke pulau Dariap. Sebagaian dari marga Kosay sampai saat ini masih hidup dan berada di Lembah Baliem ( Wamena). 

Sebagaian marga Werey masih hidup dan berada dikampung Kayu Batu yang sekarang menggunakan jantung Sumda yang dimuat dalam perahu yang terbuat dari pelepah sagu, berlayar menuju ke arah barat. Angin sakal dan gelombang yang datang melanda perahu itu tidak mampu membinasakannya. 

Perahu itu tersebut berlayar dan akhirnya sampai disuatu pulau. Di pulau itu anak -anak belasan tahun sedang mandi ditepi pantai, tiba -tiba mereka melihat sebuah kapal layar muncul ditepi langit sebelah timur. anak -anak itu berebut ingin merngambil perahu itu, tetapi sangat mengherankan, karena semakin ingin mereka menggapai perahu itu, perahu itu semaki menghindar dengan sendirinya. 

Keadaan itu berkali -kali terjadi, bila mereka ke darat perahu itu mengikuti menuju pantai, tetapi bla mereka ingin mengambil perahu itu, ia menghindar. naka mereka memanggil orang dewasa untuk menyaksikan perahu ajaib, tetapi hal itu juga sama dengan keadaan semula waktu anak -anak hendak mengambilnya. kemudian mereka memanggil Ondoafi ( marar mataun) di pulau itu untuk meyaksikan perahu itu. ketika ondoafi tiba ditepi pantai perahu itu dengan kecepatan tinggi merapat ke tepi pantai, lalu sesuatu melompat dari dalam perahu menuju ke arah ondoafi.
Ondoafi kaget dan berusaha melepas benda yang ada didadanya, namun tidak berhasil karen benda itu telah hilang dan terbenam kedalam dadanya.

Jantung Sumda yang masuk kedalam dada Ondoafi memberikan inspirasi kepadanya bahwa Sumda telah meninggal . Ondoafi itu memerintahkan penduduk untuk membuat perahu dan kembali lagi ke pulau Dariap, tanah asal mereka.

Penduduk pulau Dariap yang lari mengungsi ke arah timur, barat, dan utara setelah mendapat berita kematian nenek raksasa Sumda, sebagaian segera kembali ke pulau Dariap, sedangkan sebagian lagi tak kembali. 

Sekarang pulau Dariap dihuni oleh penduduk satu kampung yaitu, kampung Yaungapsa. Penduduk kampung Yaungapsa sekarang ini hanya sedikit saja karena sebagian telah dibunuh oleh Sumda dan sebagain lagi amsih dalam pegungsian. 

____
*) Diambil dari Kumpulan Cerita Rakyat Papua Tana Naripi Sosane Besien

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here