Mitos Kuri Pasai

674
mitos kuri pasai (Ilustrasi:IST)
mitos kuri pasai (Ilustrasi:IST)

Konon pada zaman dahulu hiduplah 2 orang raksasa bersaudara bernama Kuri dan Pasai. Mereka melakukan hal-hal yang aneh dan ajaib.

Kuri dan Pasar ini berasal dari Inggorosa sebuah gua karang dekat hulu sungai Wosimi. Ketika berangkat dewasa, Kuri menguasai daerah didekat sungai Wosimi, sedangkan Pasai daerah Pasai mendiami suatu tempat dekat Dusner.

Kuri adalah seorang raksasa yang suka berperang dan menipu. Dia akan menantang manusia biasa untuk berperangmelawan orang-orang yang tinggal jauh dari para pengikutnya menerima tantangan itu.

Pada suatu hari Kuri dan istrinya (manusia biasa) pergi kehutan untuk membuat kebun mereka, mereka melakukan hubungan suami-istri. Setelah itu seekor kanguru betina datang dan menjilat sperma yang bertumpah keatas sehelai daun diatas tanah nak. Lalu kanguru itu hamil dan akhinya ber anak seorang anak manusia. Pada saat yang sama pula istri Kuri melahirkan.

Kanguru itu membawa anaknya kepada Kuri yang menerima keduanya dan menamakan anak itu Kiwasi. Jadi, Kuri mempunyai dua anak laki-laki, satu dari istri manusia dan yang satunya lagi Kiwasi dari istri kangurunya.

Kiwasi tumbuh menjadi seorang prajurit perang yang baik. Namun, ia membunuh secara sembarangan, termaksud orang-orang dari kampungnya. Kuri tidak senang akan hal ini, maka ia memikirkan suatu cara untuk melenyapkan Kiwasi.

Setelah selesai suatu serangan di Warasore (dekat Oransbari) ketika semua orang tidur, Kuri dengan diam-diam membangunkan setiap orang kecuali Kiwasi. Mereka meningalkan makanan dan busurnya, dan dengan diam-diam mereka menarik perahu dan mendayung pulang.

Baca juga:  Ini 11 Tempat Wisata Populer di Kota Timika

Ketika Kiwasi bangun ia menemukan dirinya sendiri; ayahnya menipunya. Akhirnya, ia menemukan jalandia menemukan jalan untuk kembali ke Wosimi dengan bantuan ibunya.

Ia ingin melawan kuri dan dia mulai berteriak keras untuk menyampaikan tantanganya terhadap Kuri.

Pasai juga mendengar ucapan sombong itu dan datang dari maniami. Pasai tidak ingin Kiwasi berperang melawan Kuri dan meninggal, maka ia meyakinkan Kiwasi bahwa Pasai yang berhadapan dengan Kuri. Kiwasi dan teman-temannya berangkat kembali ke Warasore.

Pasai lalu membuat tifa dari kulit biawak yang dia mainkan dengan lilin lebah dan madu. Ketika ia memukul tifa, suaranya berbunyi ke seluruh penjuru daerah teluk Wandamen. Kuri mendengar suara yang indah itu, lalu dating dan bertanya dengan apa Pasai membuat tifanya. Pasai berkata bahwa dia mengunaka kulit peru ibu mereka. Kuri meminta tifa itudari Pasai, tetapi Pasai tidak mau. Lalu kuri pergi untuk membuatnya sendiri.

Kuri pergi kepada ibunya dan mengatakan ia perlu kulit perut ibunya untuk membuat tifa, tetapi ibunya tidak mau ia memotongnya.

Setelah membujuknya, akhirnya ibunya membiarkan Kuri mengulitinya. Ibunya berteriak keras karena kesakitan dan kemudian meninggal.

Kuri lalu sadar bahwa Pasai telah mem-bohonginya.mereka dua mulai berperang. mereka saling menikam dengan pisau, saling melukai dengan parang dan kapak, dan saling menusuk dengan tombak. Mereka saling menembak dan melukai dengan bambu tajam.

Baca juga:  Ini 11 Tempat Wisata Populer di Kota Timika

Dekat Dusner, Kuri menikam dan menuduk Pasai dengan ujung kayu parmer (sebab itu ada banyak kayu parmer dekat Dusner). Pasai menikam kuri dengan bambu tajam didaerah Wandamen dekat Wosimi ( sehingga sekarang banyak bamboo di tempat itu).

Pada waktu itu sungai Wosimi mengalir ke Goni dan kampung-kampung Yeratuar di sebelah timur pegunungan Wondivoi. Kuri dan Pasai berperang sangat hebat sehingga kaki mereka menendang batu-batu besar kedalam sungai dan membendungnya sehingga terjadi dua ombak besar. Kedua ombak besar itu turun dan merubah arah sungai Wosimi sehingga sekarang ini sungai itu mengalir ke laut di teluk Wandamen. Kedua raksasa itu berperang sepanjang hari sampai matahari terbenam.

Mereka berperang dari Wosimi sampai di Dusneri.

Akhirnya Pasai meninggalkan daerah dekat Suviri itu (tempat keluar), dekat Dusneri. Dia pergi kesebelah barat dan meperanakan orang barat. Orang-orang ini berkulit putih dan sangat pandai seperti dia.

Sebelum pergi, dia berjanji akan kembali lagi ke tempat asalnya dan membawah ilmu pengetahuan serta banyak barang bagus.

Ketika raksasa Pasai meningalkan tempat itu , dia menedang batu besar sehingga terbelah. Bekas kakinya tertingal di batu itu yang masih ada sebagai bukti keberadaannya sampai sekarang. Ini masih bisah dilihat di dekat dusneri.

Cerita rakyat ini berasal dari daerah Teluk Wondama


Loading...
loading...

KOMENTAR ANDA

PACEBRO percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini.