SHARE

Matisyahu (Matius Paul Miller, 30 Juni 1979) adalah musisi reggae Amerika. Dia cukup terkenal karena dalam musiknya sering menggabungkan tema Yahudi tradisional dengan reggae, rock dan hip-hop. Matisyahu juga seorang Yahudi ortodoks. Sejak 2004, ia telah merilis dua album studio serta satu album live, dua remix CD dan satu DVD yang menampilkan konser, dan sejumlah wawancara.

Sepanjang karirnya, Matisyahu telah bekerja sama dengan beberapa nama besar dalam produksi reggae termasuk “Bill Laswell” dan “duo Sly & Robbie”.

Sejak debut awal, Matisyahu telah meneriwa banyak masukan positif dari “rock dan reggae outlet”. Pada tahun 2006, Matisyahu pernah dinobatkan sebagai Top Reggae Artist oleh Billboard.

Matisyahu di Cover Lagu Jerusalem (Youtube)
Matisyahu di Cover Lagu Jerusalem (Youtube)

Matthew Miller alias Matisyahu lahir di West Chester, Pennsylvania, Amerika Serikat pada tanggal 30 Juni 1979, sesuai dengan tanggal Yahudi tanggal 5 Tamuz 5.740. Tak lama setelah ia lahir, Miller keluarganya pindah ke Berkeley, CA dan akhirnya menetap di White Plains, NY. Mulai tumbuh dewasa, orang tua Matisyahu mengirimnya ke Sekolah Ibrani dua kali seminggu, tapi seperti kebanyakan anak Amerika, ia menolak tambahan jam sekolah dan sering diancam dengan pengusiran karena mengganggu jam pelajaran.

Pada usia 14, Matthew Miller menjalani hidup dengan nyaman dan santai sebagai remaja hippie. Namun pada saat itu tren “Dead-Head” meningkat di Amerika, dia gimbalkan rambutnya dan sering mengenakan sandal ‘Birkenstock’ sepanjang musim dingin. Ia juga sering memainkan jimbe di ruang makan dan belajar, kadang membuat ribut seisi kelas.  Pada suatu saat ketika masih usia sekolah, dia memutuskan untuk berangkat pada perjalanan berkemah di Colorado. Jauh dari kehidupan pinggiran di White Plains, Matisyahu memiliki kesempatan untuk mengambil waktu introspektif melihat dirinya sendiri dan merenungkan lingkungannya. Dia merenungkan pemandangan menakjubkan dari Rocky Mountains, dan dia mengalami pengalaman spritual pada saat itu, Matisyahu merasa memiliki kesadaran yang membuka mata: Tuhan Itu Ada.

Setelah kejadian di Colorado, keingintahuan akan spiritualnya meningkat dan Matisyahu pun mulai melakukan perjalanan pertama ke Israel. Di sana, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa dirinya terhubung ke Tuhan setelah Colorado, Israel adalah titik balik utama. Matisyahu menghabiskan waktu di sana dengan berdoa, menjelajahi, dan menari di Yerusalem. Sebagai seorang Yahudi yang baru ia memperdalam Yudaisme.

Hingga pada akhirnya ia meninggalkan Israel ke NYC dengan hati yang berat. Setelah kembali di White Plains, NYC, Matisyahu tidak tahu bagaimana untuk mempertahankan hubungan baru dengan Yudaisme. Merasa terus depresi, ia mengambil keputusan untuk berhenti sekolah tinggi dan mulai mengikuti group band Phish pada tur nasional mereka. Di jalanan Matisyahu berpikir serius tentang kehidupan, musik dan hal itu membuat dia makin haus akan Yudaisme.

Setelah beberapa bulan dia mengembara, ia kembali ke rumah. Pada saat ini orang tuanya bersikeras bahwa Matisyahu hari pergi dan “meluruskan” diri di sekolah hutan belantara di Bend, Oregon. Sekolah mendorong kegiatan artistik dan Matisyahu memanfaatkan waktu ini untuk mempelajari lebih jauh ke dalam musik. Ia belajar di reggae dan hip-hop. Sejak di sekolah itu, dia mulai menghadiri panggung di mana ia dapat mengetuk, bernyanyi, memukul-kotak sebagai jimbe, namun bukan hanya itu semua alat musik dapat ia gunakan. Sejak itulah ia mulai mengembangkan teknik suara hip hop reggae, yang kini menghantar dia menjadi terkenal.

Setelah 2 tahun di “mendalami musik”, pada usia 19 tahun Matisyahu kembali ke New York yang tentunya sudah berubah. Ia pindah ke kota untuk mencari sekolah baru di mana ia terus mengasah ketrampilan musik, dan juga agak bisa tampil di panggung. Selama masa ini, ia berkenalan dengan “Band Shul”, sebuah rumah ibadah di Upper West Side,  mereka terkenal karena ramah ‘hippie-vibe’ dan gembira pada saat bernyanyi. Pertemuan ini turut membakar api jiwanya, dan ia pun merasa mendapat ke kekuatan mistik. Pada akhirnya ia mulai menciptakan lirik lagu yang tak jauh dari Yudaisme itu sendiri.

Sejak awal dia mulai sekolah, jika orang mulai berdoa ia sering kabur meninggalkan kelas untuk berdoa di atap sekolah. Pada masa sekolah ini Matisyahu menulis sebuah drama berjudul “Echad” (One). Drama itu tentang seorang anak laki-laki yang bertemu seorang Rabi di Washington Square Park dan akhirnya melalui Rabi itu dia menjadi religius. Beberapa orang merasa bahwa drama itu menggambarkan dirinya sendiri.

Baca Juga: Bob Marley: Musik, Perlawanan dan Perdamaian

Awalnya sebagai seseorang yang pernah skeptis terhadap otoritas dan aturan, Matisyahu mulai menyadari akan hidup dan akhirnya ia pun mulai menjanai gaya hidup sebagai seorang Yahudi Ortodoks. Dia mulai bertumbuh dengan ‘disiplin’ dalam aturan Yudaisme, termasuk mematuhi Hukum Yahudi umum. ‘The Chabad-Lubavitch’ adalah cara padang logis yang menjadi sebuah panduan yang kuat untuk Matisyahu.

Matisyahu akhirnya mencukur rambut dan jenggotnya. (IST/liveforlivemusic)
Matisyahu akhirnya mencukur rambut dan jenggotnya. (IST/liveforlivemusic)

Ia terus mendalami jiwa spiritual dan intelektual, dan baginya hal ini adalah tantangan. Hingga kini Matisyahu diketahui telah merubah penampilannya yang berjenggot dan gimbal menjadi seorang yang ‘biasa’.

Note: Ini adalah artikel terjemahan huffingtonpost.com

SHARE