SHARE
Mohammed Yusran Alkatiri atau yang dikenal cukup dengan nama Mamat Alkatiri, seorang pelawak tunggal asal FakFak, Papua Barat.
Mohammed Yusran Alkatiri atau yang dikenal cukup dengan nama Mamat Alkatiri, seorang pelawak tunggal asal FakFak, Papua Barat.

Tubuhnya tidak terlalu tinggi, sekitar 160 centimeter. Pria itu menjabat tangan media online ini dengan ramah. Namanya Mamat Alkatiri. Ia adalah salah seorang pelawak stand up comedy atau umumnya dikenal dengan sebutan komika.

Mohammed Yusran Alkatiri atau yang dikenal cukup dengan nama Mamat Alkatiri (lahir di Fakfak, Papua Barat, Indonesia, 24 Juni 1992 adalah seorang pelawak tunggal.

Mamat merupakan satu dari beberapa pelawak tunggal atau komika dari Indonesia Timur yang berbasis di komunitas Stand Up Indo Jogja, Yogyakarta. Berasal dari salah satu kota dari pulau paling timur di Indonesia, yaitu Fakfak yang terletak di provinsi Papua Barat, Mamat merupakan komika asal Papua pertama yang dikenal secara nasional.

Mamat di kompetisi SUCI 7 mengikuti jejak komika Indonesia Timur sebelumnya seperti Arie Kriting dan Abdur Arsyad, yaitu menyuarakan keresahannya sebagai wakil dari Indonesia Timur di mana ia juga mencatatkan namanya sebagai komika asal Papua pertama yang mampu tampil di kompetisi SUCI. Meskipun penampilannya sempat naik turun, kekonsistenannya dengan persona “Anak Papua” di kompetisi patut diacungi jempol, hingga pada akhirnya ia berhasil mencapai babak grand final meskipun banyak masyarakat yang tidak menyangka langkahnya akan sangat panjang di kompetisi. Di babak grand final, Mamat berhadapan dengan komika asal Bogor yang sudah berpengalaman dan dilabeli komika nasional yaitu Ridwan Remin. Mamat akhirnya harus puas mendapat gelar runner up SUCI 7 meskipun duel terlihat berimbang sepanjang penampilannya.

Dari warna kulitnya, pria ini bukan berasal dari tanah Jawa. Ya, Mamat ialah anak asli Papua. Ia berasal dari sebuah daerah bernama Kabupaten Fakfak. Letaknya di Provinsi Papua Barat, berbatasan dengan Teluk Bintuni di sebelah utara, Laut Arafura di selatan, Laut Seram dan Teluk Berau di barat.

Jauh dari tanah Papua tidak menghilangkan rasa rindu pada kampung halaman. Dan justru kecintaan itu kian tumbuh di atas panggung stand up comedy.

“Tekad saya adalah membuat orang lain lebih mengenal Papua. Kita juga sama seperti kalian. Dan itu yang memacu materi-materi stand up comedy bukan hanya berisi jokes. Tetapi saya mengenalkan Papua pada masyarakat,” ujar mamat kepada salah satu media nasional yang mewawancarainya.

Bukti kecintaan itu juga ia tunjukkan lewat busana yang ia kenakan. Mamat menggenakan kaus dengan tulisan Papua.

“Ya saya kadang pakai kaus bertuliskan Papua. Enggak selalu juga tapi,” ujar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.

Malam itu, Mamat memadukan kaus bertuliskan Papua warna hitam dengan jaket dan celana jins warna gelap. Soal kecintaan pada Papua ini pula, materi yang dibawakan Mamat di atas panggung ialah jokes-jokes segar seputar kehidupan orang Papua.

“Siapa bilang kita makan sagu. Saya juga makan nasi seperti kalian. Di sana juga ada nasi Padang, bukan sagu Padang,” tutur Mamat yang langsung disambut gelak tawa ratusan orang yang memenuhi Gedung Kartini Kota Malang.

Baca Juga: 7 Hal Unik Tentang Papua

Jokes yang tidak kalah mengundang gelak tawa ialah kala Mamat berkisah soal kesulitan ia mencari tempat kos di Yogyakarta. “Saya itu sudah tidak dipercaya muslim, tidak percaya kuliah di Muhammadiyah, cari kos susah, apa salah saya,” ujar dia.

Jokes-jokes Mamat memang bukan sekedar banyolan belaka. Ada banyak pesan soal stigma negatif Papua yang ia bawakan di atas panggung stand up comedy.