SHARE

Apabila suatu saat anda berkunjung ke Pulau Biak, sayang jika tak sempatkan waktu untuk jelajahi air terjun yang cukup tersohor di Biak, yaitu air terjun Wafsarak.

Dilihat dari peta, jarak yang bisa tempuh sekitar lebih dari 75 kilometer dari pusat kota. Meski sangat jauh, cuma dibutuhkan waktu satu setengah jam, untuk sampai kesana.

Kondisi jalanan aspal yang baik dan hanya secuil bagian saja yang rusak, memang menyenangkan jika digunakan untuk memaksimalkan pedal gas. Apalagi jalanan terbilang sepi, tak ada banyak kendaraan yang lewat. Paling-paling hanya beberapa angkutan umum, mobil pribadi, dan motor saja.

Yang tak bisa dilupakan adalah bagian ketika anda melewati rute jalan yang berkelok-kelok dan naik turun, membuat sensasi perjalananmu jadi lebih menegangkan. Seperti naik roller coaster rasanya.

Sepanjang perjalanan, anda disuguhkan dengan hamparan pepohonan hijau di Biak. Dari kejauhan pun terlihat bukit yang hijau dan hutan-hutan lebat.

Memasuki area desa, suasana biasanya mulai berubah. Jika anda berangkat pagi akan melewati warga mulai beraktivitas dan anak-anak sekolah berbondong-bondong menuju sekolah. Dari siswa yang berseragam putih-merah, putih-biru, sampai putih-abu pun akan anda temui. Dari yang memakai sepatu, sandal, sampai tak beralas kaki pun ada.

Satu yang membuat mereka sama, yaitu semangat menuju sekolah untuk belajar. Hal tersebut terlihat dari langkah pasti mereka menuju ke sekolah yang jaraknya cukup jauh. Mungkin bisa mencapai satu kilometer.

Deru ombak dan angin khas pesisir akan mulai dengar dan rasakan ketika melewati perkampungan sampai di kawasan Biak Utara dari tempat sebelumnya yaitu Biak Selatan. Benar-benar seperti sedang membelah pulau.

Hijaunya pepohonan Biak berganti dengan birunya Samudera Pasifik. Berbeda dengan kondisi di selatan yang lautnya tenang karena berada di teluk, di utara ombaknya lebih besar. Ombak khas samudera.

Sayangnya sebagian bibir pantai diberi pagar sehingga tidak terlihat dari jalan. Namun, di beberapa bagian, masih tetap terlihat pasir putih dan karang-karang. Tampaknya, pantai di Biak didominasi oleh pantai karang.

Penasaran dengan suasana tepi laut? anda bisa menyempatkan diri untuk singgah. Jika bersama Pemandu bisa memilih berhenti di pantai yang cukup terkenal, Pantai Batu Picah namanya. Pantai ini juga dikenal dengan nama Batu Gong.

Dinamakan Batu Gong karena saat diterpa ombak besar, karang yang mendominasi di pantai itu mengeluarkan bunyi seperti gong. Tapi dengan catatan, ombaknya sangat besar hingga bisa membasahi siapa saja yang berdiri di atas karangnya.

Selain menampilkan ‘keajaiban alam’ itu, Pantai Batu Picah juga menawarkan pemandangan yang menawan. Di sisi kiri terdapat karang yang membentuk undakan.

Hati-hati jika berkunjung ke sini. Batu karang di pantai ini tajam-tajam. Berjalan pun harus sangat hati-hati karena agak licin.

Puas menikmati angin laut dan mendengar deruan ombak, anda bisa melanjutkan perjalanan. Mobil kembali dipacu melewati jalan yang berliku.

Selang sekitar 15 menit kemudian anda akan sampai ke air terjun Wafsarak. Letak air terjun ini tak seberapa jauh dari jalan raya. Hanya berjalan dua sampai tiga menit keindahan air terjun ini sudah nampak. Letaknya juga berada di belakang pemukiman warga.

Untuk menuju ke air terjun, anda bisa meminta penduduk setempat menemani atau menghantar karena disana akan sangat ramah kepada siapa saja.

Air Terjun Wafsarak ini dijadikan tempat wisata oleh warga setempat. Mereka mengelolanya secara swadaya.

Bagian atas Air Terjun Wafsarak yang menyejukan mata dan pikiran.
Bagian atas Air Terjun Wafsarak yang menyejukan mata dan pikiran.

Memang terlihat tidak terawat tetapi ini menambah kesan alami dan unik. Daun-daun yang gugur dibiarkan jatuh begitu saja. Ada juga Tempat duduk yang khusus disediakan buat pengunjung.

Pengunjung bisa merasakan sensaninya dengan memanjat dinding air terjun dan melompat untuk menceburkan diri ke danau hijau di bawahnya.

Di sisi lainnya, anda juga akan menemukan anak-anak di sana yang sedang asyik mandi di sungai yang dialiri air terjun Wafsarak. Mereka tentu saja murah senyum dan pasti akan melambaikan tangan, walau malu menjawab pertanyaan.

Baca Juga: Kota-Kota Ini Dihuni Oleh Satu Manusia Saja!

Senyum dan sapa itulah yang juga mengakhiri penjelajahan anda. Meninggalkan kenangan akan Pulau Biak yang begitu indah dengan penduduk nan ramah.

SHARE