Beberapa Negara Jadi Korban Virus Petya, Indonesia Belum

316

Setelah beberapa hari serangan virus komputer Petya menjangkit di berbagai negara, Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara, mengaku belum juga mendapat laporan soal temuan virus tersebut di Indonesia.

Kepada wartawan di Bakkoel Coffee, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (30/6/2017), ia menyebutkan bahwa walaupun belum ditemukan, namun belum bisa disimpulkan Indonesia sudah relatif aman dari serangan perangkat lunak yanga berpotensi mengunci data di komputer itu.

“Tidak boleh mengasumsikan aman, kami tidak mau berspekulasi, ini aman atau tidak,” ujarnya.

Virus tersebut masuk antara lain melalui pesan surel palsu, yang sampai di akun korban. Surel palsu itu juga bisa berbentuk informasi lowongan kerja, dan si korban diminta untuk mengikuti sejumlah langkah yang dituliskan di surat tersebut.

Secara tidak sadar, korban tengah mengaktivasi virus itu. Setelahnya komputer si korban akan ‘reboot,’ dan saat proses itu berlangsung, si virus tengah menyerang Master Boot Record (MBR), sehingga hasilnya adalah korban tidak bisa lagi mengakses datanya di cakram keras penyimpan data.

Korban kemudian menerima informasi, untuk membayar 300 dollar Amerika Serikat (AS) dalam bentuk bitcoin, agar datanya kembali aman.

Rudiantara mengimbau sebelum proses reboot terjadi, ada baiknya semua jenis komputer, baik komputer meja maupun komputer jinjing, untuk dimatikan terlebih dahulu jaringan internetnya, maupun jaringan lokal.

Setelahnya lakukan pengemanan dengan menyalin data ke tempat lain, dan memperkuat segala perangkat anti virus.

“Tapi karena banyak yang mudik, kan banyak yang belum menyalakan PC (Personal Komputer) nya, jadi kita belum tahu. Kami berharap dengan sosialisasi ini, mereka mau melakukan pencegahan sebelum terjadi (reboot),” ujarnya.

Serangan di beberapa negara

Serangan ransomware Petya di Eropa dilaporkan telah mulai menjalar ke kawasan Asia. Petya, yang memanfaatkan celah keamanan pada komputer – persis seperti yang dilakukan WannaCry beberapa waktu lalu, menurut Kapersky Lab telah memakan korban 2000 komputer di tiga negara yakni Ukraina, Rusia dan Polandia.

Petya kemudian dilaporkan menyebar ke Denmark, Perancis, Inggris dan Amerika Serikat (AS) serta beberapa negara Asia. Beberapa korban serangan Petya mengklaim komputer mereka diblokir dan menerima pesan permintaan tebusan berupa bitcoin sebesar USD 300 jika ingin mendapatkan kembali file mereka. Demikian seperti dilaporkan BBC.

Serangan Petya pertama kali terdeteksi pada jaringan komputer bank sentral Ukraina dan beberapa lembaga keuangan, penyedia sumber energi negara dan bandara utama di ibukota Ukraina. Pemerintah Ukraina menyebutnya sebagai serangan cyber terburuk dalam sejarah negara itu. Rusia yang awalnya diduga mendalangi serangan itu juga turut menjadi korban, dengan perusahaan minyak terbesar negara itu, Rosneft dan perusahaan pembuat besi, Evraz menjadi sasaran utama.

Petya juga menyerang jaringan komputer perusahaan transportasi laut di Denmark, Maersk, perusahaan periklanan raksasa Inggris, WPP dan beberapa rumah sakit di seluruh London, kelompok industri Perancis, Saint-Gobain dan perusahaan farmasi raksasa AS, Merck.

Di Asia, perusahaan cokelat, Cadbury dilaporkan menjadi perusahaan pertama di Australia yang menjadi korban. Sebuah terminal yang dikelola AP Moller-Maersk dan berada di pusat fasilitas kontainer terbesar di India di Pelabuhan Jawaharlal Nehru dan beberapa perusahaan negara itu turut menjadi korban.

Sementara itu, Kepala insinyur keamanan di Qihoo 360 Technology Co, Zheng Wenbin mengatakan, ada kemungkinan virus itu sudah mulai menyebar di Cina, namun bukan dalam skala yang besar.


Loading...
loading...

KOMENTAR ANDA

PACEBRO percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini.